Jumat, 04 September 2009

14 Ramadhan 1430

Ramadhan,
Kembali aku diingatkan
kebaikan akan terlipat ganda
keburukan, malas, termaafkan

Allah, Engkau Yang Maha Bijaksana

Ramadhan,
Kembali aku diingatkan
apa yang telah ia ajarkan
alif, lam, mim, pernah terbata terbaca

Allah, Engkau Yang Maha Penyayang

Ramadhan,
Kemarin aku diguncang
dengan gempa keras yang tiba-tiba
dan kabar bendera kuning berkibar

Allah, Engkau Yang Maha Perkasa.

14 Ramadhan, air mata tumpah sudah
penuntun yang sabar telah tersenyum ramah
pada malaikat yang siap mengangkatnya pada kehidupan nirwana

14 Ramadhan, hikmah itu mudah mengamin
menumpahkan kerinduan pada ia, lewat lantunan yaasiin
tak ada lagi senyum hangat itu untukku mencairkan cemoohan dingin

ku antar kau ke rumah barumu dengan ikhlas yang penuh
tetes-tetes air mata rindu telah ku basuh
semoga mampu kulanjutkan langkahmu tanpa keluh

Bismillahi alamilati rosulillahi salaulohi wa'alaihiwassallam,
la hawla walaquata illa billahil aliyyil'adzim
Innalillahi wainnailaihi rojiuun.

-untuk Alm. kakek H. Abdurrahman Siddik-

Rabu, 26 Agustus 2009

Biarkan

Biarkan waktu menunjuk dedaun kering
gugur perlahan berkumpul diantara kakimu yang kuning

Biarkan batang pohon tua itu merebah karena bosan
untuk melepas nafas yg berkesudahan

Biarkan mentari memilih bayangannya
untuk kembali memeluk gundukan tanah basah karena airmata

Biarkan kumandang suara dapat kau baca sebagai tanda
menjadi cahaya petunjuk mana arah yang sia-sia

Selasa, 21 April 2009

CEMBURU

wajah tanah
senyum rembulan

cahaya, mengisi penuh pundi-pundi
berbincang hangat dengan sejati

wajah tanah
tersiram berkah

dibelai manja harum tak terkira
menanti hari ditampakkan rahasia

saat ruh itu kembali pada tubuh
sungguh aku cemburu

Sabtu, 18 April 2009

Separuh Bayangan

separuh bayangan dalam celah cahaya menitikkan air
dari air yang selalu ada untuk menerjemahkan rasa
lalu tentang siapakah air itu mengalir?

bayangan hanya bisa menikmati kegelapannya setengah
karena jilatan cahaya telah mempesona bagian lain dirinya.

separuh bayangan mencoba menghapus sedih
kemudian memaku satu persatu keluh
di dinding kelam agar tetap menjadi bayangan.

yang hilang adalah pemberi hikmah tentang kepercayaan
dan sembunyi pun tetap ada walau tidak utuh.

Rabu, 03 Desember 2008

TERUNTUK HUJAN

salam untukmu hujan yang sedari malam
basah menyirami bebatuan
pohon dan kering tanah merah
basuh mengobati purnama renung
hingga pudar warna amarah
lebat dalam sunyi tanpa jeda dan
kenangan yang menggerimis reda

Ketika

kepada yang menghembus larik cemburu
di setiap guratan waktu
maaf jika yang bersisian denganku bukan dirimu

ketika cinta adalah gelitik yang menyemut di dalam hatiku
harum bunga yang menenangkan jiwa bukan kau ternyata

Tak ingin ada lagi hidangan resah
maka tinggalkan aku dalam genangan rindu
karena denganmu waktu telah menjadi sembilu

Sembunyi Dalam Terang

Bosankah kau melihat aku dalam perang?
Perang melawan seseorang di dalam diri
yang senantiasa mengancam
Seseorang yang dengan terang selalu menenggelamkan
Agar aku semakin tertutup dalam dimensi yang mencekam.

Bosankah kau mendengar aku teriak kesakitan?
Karena terus menerus tertusuk oleh ketidakberdayaan
Semua kekuatan di belahan dunia menyerah kehabisan nafas
Bila ingin menyelamatkanku yang semakin tenggelam menghitam

Lalu apakah kau akan membiarkanku kawan?
Atau kau membantuku melepaskan karat yang semakin mengikat
Lalu apakah kau akan membantuku kawan?
Dan membiarkanku bersembunyi dalam terang.

Karena hanya dibalik terang, aku merasakan kemenangan